Sebagai putri kedua keluarga bangsawan, tokoh utama cuma ingin hidup aman, belajar sopan santun, dan biarkan kakaknya yang sempurna mengambil semua sorotan. Sampai pada upacara pemilihan pahlawan, pedang suci yang konon hanya bisa dipegang sang terpilih justru melompat ke tangannya. Seketika, istana geger, gereja kelabakan, dan seluruh kerajaan menatapnya sebagai harapan baru yang tak pernah mereka rencanakan.
Walau dimahkotai gelar, ia sadar dirinya belum siap. Ia berusaha mengembalikan pedang dan menawar hidup normal, tapi gelombang monster, intrik politik, serta tatapan iri para bangsawan tidak memberi waktu. Dengan bimbingan seorang ksatria muda yang kaku namun suportif, ia belajar bertarung, menata prioritas, dan mencari definisi pahlawan versinya sendiri, sambil menjaga hubungan keluarga agar tidak retak dan tetap waras di tengah drama kerajaan.
Sebagai putri kedua keluarga bangsawan, tokoh utama cuma ingin hidup aman, belajar sopan santun, dan biarkan kakaknya yang sempurna mengambil semua sorotan. Sampai pada upacara pemilihan pahlawan, pedang suci yang konon hanya bisa dipegang sang terpilih justru melompat ke tangannya. Seketika, istana geger, gereja kelabakan, dan seluruh kerajaan menatapnya sebagai harapan baru yang tak pernah mereka rencanakan.
Walau dimahkotai gelar, ia sadar dirinya belum siap. Ia berusaha mengembalikan pedang dan menawar hidup normal, tapi gelombang monster, intrik politik, serta tatapan iri para bangsawan tidak memberi waktu. Dengan bimbingan seorang ksatria muda yang kaku namun suportif, ia belajar bertarung, menata prioritas, dan mencari definisi pahlawan versinya sendiri, sambil menjaga hubungan keluarga agar tidak retak dan tetap waras di tengah drama kerajaan.
Sebagai putri kedua keluarga bangsawan, tokoh utama cuma ingin hidup aman, belajar sopan santun, dan biarkan kakaknya yang sempurna mengambil semua sorotan. Sampai pada upacara pemilihan pahlawan, pedang suci yang konon hanya bisa dipegang sang terpilih justru melompat ke tangannya. Seketika, istana geger, gereja kelabakan, dan seluruh kerajaan menatapnya sebagai harapan baru yang tak pernah mereka rencanakan.
Walau dimahkotai gelar, ia sadar dirinya belum siap. Ia berusaha mengembalikan pedang dan menawar hidup normal, tapi gelombang monster, intrik politik, serta tatapan iri para bangsawan tidak memberi waktu. Dengan bimbingan seorang ksatria muda yang kaku namun suportif, ia belajar bertarung, menata prioritas, dan mencari definisi pahlawan versinya sendiri, sambil menjaga hubungan keluarga agar tidak retak dan tetap waras di tengah drama kerajaan.