Setelah kondisi keluarga berubah drastis, seorang siswa SMA tiba-tiba harus menjadi wali bagi adik tiri yang tidak sedarah. Demi membuat transisi itu terasa aman, ia memilih jalan pintas: menyusun kebohongan-kebohongan kecil tentang dirinya, mulai dari kemampuan masak sampai kestabilan keuangan. Niatnya sederhana, agar adik tirinya tidak merasa takut tinggal di rumah baru.
Namun, kebohongan yang awalnya terasa sepele mulai menumpuk dan mengundang momen kocak sekaligus deg-degan. Di tengah rutinitas sekolah, kerja paruh waktu, dan interaksi tetangga, keduanya perlahan belajar menegosiasikan batasan, kepercayaan, dan arti menjadi keluarga. Adik tirinya yang cerdas cepat menangkap ada yang tidak klop, dan justru menantang sang kakak untuk berani jujur pada dirinya sendiri.
Setelah kondisi keluarga berubah drastis, seorang siswa SMA tiba-tiba harus menjadi wali bagi adik tiri yang tidak sedarah. Demi membuat transisi itu terasa aman, ia memilih jalan pintas: menyusun kebohongan-kebohongan kecil tentang dirinya, mulai dari kemampuan masak sampai kestabilan keuangan. Niatnya sederhana, agar adik tirinya tidak merasa takut tinggal di rumah baru.
Namun, kebohongan yang awalnya terasa sepele mulai menumpuk dan mengundang momen kocak sekaligus deg-degan. Di tengah rutinitas sekolah, kerja paruh waktu, dan interaksi tetangga, keduanya perlahan belajar menegosiasikan batasan, kepercayaan, dan arti menjadi keluarga. Adik tirinya yang cerdas cepat menangkap ada yang tidak klop, dan justru menantang sang kakak untuk berani jujur pada dirinya sendiri.
Setelah kondisi keluarga berubah drastis, seorang siswa SMA tiba-tiba harus menjadi wali bagi adik tiri yang tidak sedarah. Demi membuat transisi itu terasa aman, ia memilih jalan pintas: menyusun kebohongan-kebohongan kecil tentang dirinya, mulai dari kemampuan masak sampai kestabilan keuangan. Niatnya sederhana, agar adik tirinya tidak merasa takut tinggal di rumah baru.
Namun, kebohongan yang awalnya terasa sepele mulai menumpuk dan mengundang momen kocak sekaligus deg-degan. Di tengah rutinitas sekolah, kerja paruh waktu, dan interaksi tetangga, keduanya perlahan belajar menegosiasikan batasan, kepercayaan, dan arti menjadi keluarga. Adik tirinya yang cerdas cepat menangkap ada yang tidak klop, dan justru menantang sang kakak untuk berani jujur pada dirinya sendiri.